Seorang ibu yang sudah puluhan tahun menahan rindu pada anaknya yang hilang, diam-diam menyusuri kota setiap malam dengan harapan yang hampir pudar. Ia bertahan pada foto lusuh di dompet, pada suara langkah di koridor kosong. Sampai suatu hari, selembar amplop tanpa nama masuk ke celah pintu rumah kontrakannya. Isinya hanya satu kalimat, alamat, dan waktu. Apakah ini titik terang atau jebakan terakhir?